Pages

Selasa, 09 Juli 2013

[Review "White House Down"] Antara Patriotisme dan Nurani

Judul        : White House Down

Genre       : Action | Drama | Thriller

Sutradara : Roland Emmerich

Pemain     : Channing Tatum, Jamie Foxx, Maggie Gyllenhaal

Studio      : Centropolis Entertainment, Mythology Entertainment

Rilis          : 28 Juni 2013

Durasi      : 131 menit

Rating      : ****


Mungkinkah White House, kediaman sekaligus tempat kerja orang nomor 1 di Amerika Serikat dan stafnya, ditaklukan sekelompok orang bersenjata? Bisa jadi itu hanya khayalan belaka bagi orang Amerika. Namun dalam film ini kemungkinan jebolnya White House pun tersingkap dalam plot yang penuh laga.

Tur White House
Mengisahkan seroang polisi Capitol, John Cale (Channing Tatum), yang bekerja untuk mengawal juru bicara kenegaraan, Eli Raphelson (Richard Jenkins). Tugasnya inilah yang membuat ia harus selalu siaga dan menghabiskan kebanyakan waktunya mengawal salah satu orang terpenting dalam pemerintahan Amerika Serikat tersebut. Sejak perceraian dengan istrinya, hubungan Cale dengan putrinya, Emily (Joey King), merenggang. Emily digambarkan sebagai seorang abg yang memiliki ketertarikan yang besar dengan dunia politik. Patriotisme yang mengalir dari ayahnya menenggelamkan dirinya dalam berbagai berita dan isu kenegaraan dan politik Amerika, baik internal maupun eksternal. Sebagai seorang remaja era kini, ia aktif pula di dunia maya. Dan melalui itu pula, Cale mencoba memperbaiki hubungannya dengan Emily. Di sela-sela waktu kerjanya, ia mengajak putrinya untuk mengikuti tur mengelilingi White House. Ajakan ini diterima dengan semangat oleh Emily. Belum lagi Cale mengabarkan kepada Emily bahwa pada hari tur tersebut, ia akan menjalani wawancara untuk perekrutan agen US Secret Service (USSS), yaitu agen pengawal pribadi presiden Amerika Serikat. Namun, ketika Emily berada di toilet dan terpisah dari rombongan tur dan ayahnya, sebuah bom meledak. Evakuasi dan sterilisasi ruangan dilakukan. Tak beruntung, kelompok tur Cale terperangkap dan disandera oleh sekawanan teroris pimpinan Emil Stanz (Jason Clarke), mantan anggota Delta Force.

Kisah berlanjut dengan usaha Cale untuk kabur dari sanderaan teroris tersebut untuk menyelamatkan putrinya yang terpisah dari rombongan tur. Namun di tengah lorong-lorong White House, ia mendapat informasi keberadaan presiden James Sawyer (Jamie Foxx) yang dalam bahaya. Info ini ia dapatkan melalui radio komunikasi teroris yang ia taklukan saat mencari Emily. Naluri patriotisnya mengalahkan nurani seorang ayah untuk melindungi putrinya yang juga berada dalam bahaya. Dan apa yang ia temui adalah hal yang mencengangkan! Presiden Sawyer yang awalnya hendak diamankan dengan sistem pelarian rahasia ternyata dijebak oleh pengawal pribadinya sendiri, Martin Walker (James Woods), seorang agen USSS senior. Ia mengakui sebagai otak penaklukan White House dan hendak balas dendam atas kematian putranya. Beruntung, nyawa sang presiden masih bisa diselamatkan oleh Cale yang mendengar percakapan antar pengawal dan 'bos'nya. Cale pun berusaha mengamankan presiden Sawyer. Ia berhasil menghubungi Pentagon dan mengabarkan keberadaan dirinya dan presiden Sawyer. Namun usaha penyelamatan itu dipersulit oleh kuatnya kawanan teroris yang menduduki White House. Selain itu, kehadiran Skip Tyler (Jimmi Simpson), peretas profesional yang mencoba meretas sistem informasi disana, juga ancaman pembantaian sandera, ditambah terjepitnya Cale dan Presiden Sawyer memperpelik jalan cerita. Belum lagi kesepakatan para petinggi negara untuk mengangkat wakil presiden Alvin Hammond (Michael Murphy) menjadi presiden guna mengontrol situasi kritis ini kembali menemui keputusasaan saat pesawat Air Force One yang membawa terbang presiden Alvin Hammond untuk menjauh dari titik kritis ditembak jatuh oleh misil yang dikendalikan Tyler dari White House.

Terperangkap di salah satu ujung terowongan
Di sisi lain, Cale terus berusaha mengamankan presiden (entah apakah masih berstatus presiden saat itu atau sudah menjadi mantan presiden) Sawyer dari kejaran teroris. Dibantu Carol Finnerty (Maggie Gyllenhaal), seorang agen USSS lain yang berada di Pentagon bersama petinggi negara lainnya yang tersisa; juru bicara kenegaraan Raphelson dan Jenderal Caulfield (Lance Reddick), Cale dan Sawyer mencoba kabur melalui lorong-lorong tersembunyi di White House. Emily pun turut ambil andil dalam detik-detik menegangkan ini. Ia yang akhirnya tertangkap oleh sandera setelah sebelumnya berhasil mengunggah hasil rekaman situasi mencekam di dalam White House, menjadi umpan bagi Cale dan Sawyer untuk menyerahkan diri. Dan kisah penyelamatan sang presiden pun terus menemui konflik dan halangan yang seakan tak ada habisnya.

Terlepas dari jalan ceritanya yang cukup riuh, film ini perlu diapresiasi dalam beberapa hal. Dalam beberapa potongan disampaikan sekelumit cerita historis White House. Selain itu, White House Down bisa dibilang beruntung karena ia tidak dirilis sebelum Olympus Has Fallen, film sejenis karya Antoine Fuqua dan dibintangi Gerard Butler, yang juga menampilkan kisah jatuhnya White House ke tangan teroris yang rilis pada pertengahan Maret 2013. Mengapa? Karena jarak rilisnya yang relatif tidak jauh dan kesamaan ide cerita akan menyebabkan penonton secara tidak langsung akan membandingkannya. Dalam banyak hal, White House Down, lebih unggul: kelogisan plot, realisasi visual, dan kompleksitas peran. Juga nilai-nilai patriotik yang dimunculkan bisa menjadi tambahan bekal moril, khususnya bangsa Amerika (dan juga bangsa lainnya pada negara dan perangkatnya masing-masing).

Presiden Sawyer yang mau "blusukan" ke lorong lift
Perwatakan dalam film ini juga dijiwai dengan baik. Cale dengan karakter keras khas militer namun memiliki jiwa kecintaan sangat cocok diperankan oleh Channing Tatum. Sebagaimana diketahui, Tatum telah membintangi peran sejenis, seperti pada film Dear John, G.I. Joe, G.I. Joe: Retaliation. Tokoh presiden Sawyer oleh Jamie Foxx juga mendapat perhatian tersendiri. Terlepas pembawaan kepresidenannya, ia tampil dengan sedikit bumbu nyentrik yang tampak pada beberapa adegan. Dan tak lupa, pahlawan kecil dalam film ini, Emily, dimainkan dengan apik oleh Joey Cale dengan gaya kritis ala remaja labil.

Di samping itu, perlu di garis bawahi bahwa film ini cenderung menonjolkan one man show dari Channing Tatum. Sedikit lucu ketika negara dengan militer secanggih Amerika tak mampu melindungi presidennya sendiri dan 'kalah saing' dengan seorang 'jagoan' yang hanya berbekal peralatan seadanya. Dalam film ini ditampilkan dengan jelas sepasukan militer telah berada di wilayah White House. Namun tak ada satupun yang berinisiatif menerobos dengan cerdik. Sangat kontradiktif dengan realita tentara yang dituntut bisa menyelesaikan misi serumit apapun dengan kondsisi seminim apapun. Dan kelompok teroris bersenjata lengkap pun takluk oleh satu orang yang berawal dari tangan kosong. Catatan ini sebenernya juga berlaku bagi seluruh film laga sekarang. 

Secara keseluruhan, film ini cukup menarik untuk ditonton bagi penikmat film bergenre action. Adegan kombat khas Amerika yang kental terasa juga mungkin perlu diperhatikan untuk penonoton yang belia. Dan bagaimana akhir dari kisah kepahlawanan agen Cale ini? Akan lebih terasa senasinya ketika anda yang melanjutkannya sendiri.

Selamat menyaksikan.










Minggu, 21 April 2013

Quote #4

Progress is man's ability to complicate simplicity

Thor Heyerdahl - Kon Tiki

Minggu, 03 Maret 2013

Rindu akan Hari Itu

Terbengakalai, maaf. Suatu pembiasaan (khususnya pembiasaan untuk menulis, bagi saya) membutuhkan energi aktivasi yang tinggi #sokkimiawi. Mohon dimaklumi :p

Hari ini hari kedua pelaksanaan acara akbar OSIS sekolah saya: Sonic Linguistic 2013. Sonic Linguistic (Sonlis)  adalah acara perlombaan 4 bidang; iptek, jurnalistik, bahasa, serta olahraga dan seni, yang diadakan pada kuartal awal tiap tahunnya. Hingga hari ini, jujur saja belum ada greget yang terasa pada diri saya. Moga-moga saja ini hanya efek ketidakpartisipasian saya dalam kepanitiaan acaranya saja, bukan karena kualitasnya yang menurun. Walaupun sebenarnya tidak bisa juga secara langsung dibandingkan antar Sonlis di tiap tahunnya. 

Namun, bagi saya pribadi Sonic Linguistic 2012 (Sonlis yang saya tergabung dalam kepanitiaannya) merupakan sesuatu banget. Dengan sedikit bernostalgia, saya yakin bahwa Sonlis 2012 adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya. Pengalaman emas dalam bekerja sama, saling mundukung dan menopang, konsistensi dan ketulusan bekerja, restless but not reckless, komunikasi, persahabatan, serta kebulatan tekad, semua itu terangkum dalam suatu ukiran indah hasil karya yang luar biasa. Di Sonlis 2012 saya diamanahi oleh Risky Nur Fitriansyah (Ketua Acara Sonlis 2012) untuk menjadi koordinator science competition, seksi yang sudah saya idamkan dari kelas X. Kalau tidak salah, mungkin saya salah satu orang yang pertama kali mendapat tawaran untuk menjadi koordinator, satu posisi startegis dari 30-an posisi koordinator bidang lainnya.

Bulan-bulan persiapan yang melelahkan terbayar ketika saya memasuki ruang gedung serbaguna yang telah disulap menjadi interior pesawat ulang alik. Mengusung tema Outer Space, mahakarya ini tak terlupakan. Terlebih saya mendapat "bonus" menjadi salah satu maskot Sonlis 2012, Fluks si maskot iptek. Ratusan kisah selama rentang pra dan pasca acara, terekam baik dalam memori saya. Walau ada beberapa yang tak begitu menyenangkan, bukan masalah. Saya menikmatinya.

Saya sampaikan rindu akan "heboh" Sonlis ini kepada seluruh kawan-kawan seperjunagan saya. Semoga usaha kita semua menjadi teladan dalam proyek selanjutnya, Dan teruntuk penerus acara akbar ini, lakukan dengan cara dan gayamu sendiri. 'Alien' dan 'astronot' berkendara dengan UFO dan pesawat ulangaliknya, 'prajurit' pun berkendara dengan tank dan pesawat tempurnya. Tak usah peduli seperti apa jalannya, tingkat kesuksesan dan dampak positif yang tersebarnya lah yang dinanti. Serta untuk para 'bintang' di langit, amati dan pelajari proses dan usaha semua ini, karena kalian akan ada masanya tersendiri.